Cang Panah dan Maryamah

DI koran Harian Aceh, ada kolom ‘Cang Panah’. Kolom khusus pada halaman pertama pojok atas itu memuat tulisan obrolan santai, bisa catatan si wartawan, atau seperti kolom ‘Voxpopuli’ di koran Rakyat Medeka. Tersebut dalam bahasa endatu, cangpanah berasal dari kata cang atau cincang. Panah bukanlah anak panah, tetapi buah nangka yang harum baunya lagi bergetah.

Nangka tua yang kuning ranum enak dimakan. Nangka muda jadi gulai sayur. Bisa jadi pelengkap gulai daging kambing. Ikhwal sang juru cincang, mengupas kulit, membelah daging dan biji, diramu bumbu khas Aceh, sungguh menjadikan masakan bertambah nikmat. Disajikan dalam gulai daging yang aromanya merangsang nafsu makan. Baca entri selengkapnya »


Sudeep Janda

“Zan, Sudeep Janda apa artinya?

Itu pesan SMS yang masuk ke HP saya sewaktu makan siang di Café Taman Hati depan Kantor Harian Aceh. Pesan singkat itu dikirim oleh teman lama saya. Syutttttt jangan berisik ya… dia itu seorang jurnalis.

Dia menanyakan arti dari sebuah judul berita koram Harian Aceh yang terbit hari Senin, 12 Februari 2008. Berita itu menjadi headline pada halaman Sembilan rubrik Bireuen-Pase. Berikut ini lead beritanya. Baca entri selengkapnya »


Mati (1)

SELESAI layout koran, lagi lagi saya ditinggal sendirian di kantor. Ditinggal sendiri dan tidak pulang bareng, karena saya harus update berita ke situs www.harian-aceh.com. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 2.00 dini hari, suasa jadi sepi, redaksi mulai remang hanya diterangi satu lampu saja. Komputer saya shut down dan langsung angkat kaki ke mes. Sampai di mes kawan-kawan sudah pada terlelap semua, terbuai dengan mimpi-mimpinya, antara hidup dan mati. Baca entri selengkapnya »


Mati (1)

SELESAI layout koran, lagi lagi saya ditinggal sendirian di kantor. Ditinggal sendiri dan tidak pulang bareng, karena saya harus update berita ke situs www.harian-aceh.com. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 2.00 dini hari, suasa jadi sepi, redaksi mulai remang hanya diterangi satu lampu saja. Komputer saya shut down dan langsung angkat kaki ke mes. Sampai di mes kawan-kawan sudah pada terlelap semua, terbuai dengan mimpi-mimpinya, antara hidup dan mati.

Sebelum istirahat, saya tidak langsung rebahan. Saya sempatkan cuci muka pakek pembersih dan sikat gigi, suatu kebiasaan saya menjelang tidur. Namun, tak seperti biasanya di dalam bak kamar mandi ada tiga ekor gumuto—sejenis tawon liar, berbadan ramping, pinggulnya bahenol, berwarna orenge ditengah dan paling ujung bagian ekor berwarna hitam, di Aceh kami menyebutnya gumuto—yang mengapung tak berdaya. Dua sudah mati dan satu lagi masih hidup. Ia pun mencoba menyelamatkan dirinya dengan mengepakkan sayapnya, namun itu gagal. Sayang, sayapnya basah dan air bukan landasan baik untuk penerbangannya.

Gumuto itu pun saya singkirkan dari bak mandi. Dengan gayung saya ciduk mayat-mayat itu dan ‘campakkan’ ke lubang pembuangan. Yang masih hidup saya selamatkan dilantai saja. Ia pun sudah bisa jalan dan mulai mengepakkan sayap hingga menimbulkan suara khasnya. Nyuuuuutttttttt, suara itu kan?

Anehnya, bunyi itu terdengar di atas, bukan di lantai hasil kepakan gumuto yang saya selamatkan. Dan ternyata masih ada gumuto lain yang masih hidup dan mecoba terbang, di ventilasi, di lampu neon kamar mandi, dilantai juga. Kok jadi bertambah banyak. Tapi ke-banyak-an sudah mati terkapar di dekat pintu, disudut-sudut dan di dekat lubang pembuangan bak mandi.

Saya tak ambil pusing dan tak ada firasat apa-apa. Toh itu sudah nasibnya. Mungkin pasukan penyengat beracun itu tersesat dan tak tahu pulang, apalagi  lagi sudah larut malam begini, Itu yang terlintas di benak saya sambil muka saya kucek-kucek dengan ‘deterjen’ pembersih yang ada butiran scrub seperti iklan di TV. Ya ampun… korban iklan juga ya, atau dikorbankan iklan?

Selesai di kamar mandi, saya pun bergegas keluar. Baru dua langkah berjalan di ruang tengah yang sudah jadi temapt parkir motor kawan-kawan, saya kembali dikejutkan lagi dengan bunyi nyuuuuutttttttt… gumuto yang berterbangan. Saya berhenti melangkah, dan berdiri dekat Supra-X si Taufiq Zas. Saya tertegun dengan pemandangan lampu neon ruang tengah yang dipenuhi oleh gumuto tersesat itu. Mereka bergerak-gerak. Kepalanya beradu—seperti berciuman—satu sama lain, yang tidak tahan dan terjatuh kebawah—entah karena licin bergantung di kaca neon?.

Astagfirullah… di lantai, pas di bawah penerangan lampu neon sudah banyak sekali gumuto jatuh tak berdaya. Ada yang sudah mati, ada yang berusaha untuk terbang lagi, ada juga yang lagi sekarat sambil berjuang dari serangan semut semut. Ah… sungguh malang nasibnya. Kasian sekali ya…, ‘sudah jatuh diseret semut pula.’

Dalam sekejap, saya merasakan hal aneh, menjadi ngeri, merinding dengan pemandangan tawon-tawon liar yang berserakan itu. Ada rasa tukut juga. Takut akan dipatok oleh gumuto yang kesel karena jatuh tadi. Dan kekesalannya ia lampiaskan pada saya. Apa lagi di tengah malam begini.

Saya tambah penasaran dan mencoba melihat lebih dekat lagi, apa gerangan gumuto tersesat itu masuk mes kami. Terus apa yang mereka cari dan apa yang mereka lakukan sehingga banyak yang mati? Sebuah pertanyaan yang belum mampu saya jawab di tengah malam yang sunyi.

Bagaimana bisa menjawab kejadian ganjil ditengah malam begini, tawon tak diundang itu masuk ke dalam bak mandi. Melakukan ‘ritual’ aneh dengan menari-nari di lampu neon. Tak ada perebutan makanan, di mes tak ada serbu sari, apa lagi taman bunga? Yang mereka lakukan saling menindih, bertabrakan kepala, dan menari dengan gaya-gaya yang aneh. Bagi gumuto yang tak tahan—kalah– jatuh tak berdaya ke lantai dan akhirnya mati.

Sebuah ‘ritual’ yang mempertaruhkan nyawa dalam kolonial bangsa tawon. Mereka memang pasukan pemberani, tak takut tersesat bahkan rela mati, hanya untuk melaksanakan tugas kolonial yang diperintahkan oleh sang ratu. Tapi, dimana ratunya ya? Dari tadi saya tidak melihatnya, kata orang orang ratunya leboh besar di antara yang lain.

Saya pun berlalu masuk ke kamar. Perlahan melangkah, menghindari untuk tidak menginjak mayat-mayat gumuto ‘seribu’ pertanyaan di kepala yang belum terjawab. dengan

Di kamar, saya langsung rebahan di kasur, memejamkan mata tanpa perlu untuk menjwab pemandangan aneh tadi, karena saya memang belum mampu menjawabnya kenapa banyak tawon liar itu mati di sini? Iya… mereka banyak mati disini, di rumah ini, yang tidak ada hubungannya dengan dunia gumuto. Atau jangan-jangan akan terjadi sesuatu disini, ah tidak mungkin… tiba-tiba seperti dejavu mati… dan tidak merasakan apa apa lagi….

***

Paginya saya pun terbangun dan langsung melihat jam di HP saya, angka menunjukkan jam 11 siang. Payah, saya telah melewati antara hidup dan mati selama delapan jam.

Saya bergegas bangun, pakai handuk di pinggang. Tapi saya tidak langsung ke kamar mandi, tapi malah masuk ke kamar depan. Di sana saya mencoba menanyakan perihal tadi malam. Rupanya bukan hanya saya yang dikejutkan oleh gumuto-gumuto itu.

“Waktu masuk ke kamar mandi dan lagi kencing, aku dikejutkan oleh bunyi nyyyuuutttt… ada bumuto terbang. Aku jadi takut dan langsung bergegas keluar….” Kata Andi dengan sedikit kocak.

“Aneh ya, kenapa ada gumuto malam-malam datang ke mes dan banyak sekali yang mati setelah menari-manari di lampu neon” kata aku yang penasaran sekali.

Di sudut kamar, ada Haikal yang lagi tidur dan kepalanya ia sandarkan ke diding kamar sambil membaca buku “Sang Pemimpi”—buku tetralogi Laskar Pelangi–itu langsung menjawab, itu namanya lagi musim kawin. Masak itu saja kalian ngak tahu. Binatang itu kalo lagi musim kawin, mereka harus melakukan ‘ritual’ berebutan dulu siapa yang berhak untuk kawin dengan ratu.

Mereka—tawon laki-laki—harus berkelahi dulu untuk satu kemenangan dan yang kalah harus rela mati.[]


Cinta dan Keyakinan

Cinta. Lagi lagi cinta. Ia memang, saya lagi bingun dengan cinta. Bingun dengan kata yang dibentuk oleh lima karakter ini penuh misteri. Menyimpan berbagai rahasia hidup. Cinta tak akan pernah habis dikupas, dinovelkan, diceritakan, bahkan diangkat ke layar kaca. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.