Jadi I will stand by you….

NGANTUK. Malan sudah jam 2.45 Wib dini hari, belum tidur juga. Karena komitment pada diri sendiri harus ada “corat-coret” dulu di blog abis Layot koran, atau seleum tidur. Terpaksa deh tangan pencet-pencet keyboard barang dua kali enter sambil mendengar “gesekan” gitar bareng teman.

Petikan accord gitar Andra diiringi musik I will stand by you, yang diputerin di winamp. Lagu darinya The Pretenders, dah di-repeat entah berapa kali untuk dicocokin sama accord gitar, bikin ribut aja. Aku lagi mikrin mo tulis paan, pikiranku malah terpikir I will stand by you….. Baca entri selengkapnya »


“Mita Angen”

MULAI hari ini, senin–tanggalnya udah ada di samping–kepingin sih ngak mau ketemu sama Rianti untuk sematara waktu. Biar aku bisa melupakannya. Jadi, tidak terlalu terbawa hati sama dia kalau tidak jadi hidup semati.

Aku barusan pulang dari ketapang temanin Kang Ucup–sapan Bang Yusuf, mitra kerja satu profesi di bidang “perwajahan” redaksi Harian Aceh. Eh, malah dipanggil Rianti nie belum sempat buka sepatu pun, apa lagi mo hadap sang “kuasa” untuk bayar “hutang” alias shalat asar. Baca entri selengkapnya »


Sinyak tidak Mengenalku Lagi

MATAHARI pagi di ufuk timur mulai menampakan senyuman kemerahannya. Pagi yang segar mulai ternodai oleh berbagai asap kenderaan kota “gersang” Matangglumapangdua. Kota yang terkenal dengan sate matang itu, aku, sekira jam tujuh pagi turun dari mandala—angkutan L300. Aku tiba kota kelahiran, setelah menempuh perjalanan 350 kilometer di malam hari yang sangat melelahkan dari Banda Aceh.

Dengan merogok kocek lemabaran seribu untuk ojek, aku telah di antar sampai di depan rumah. Pagi itu, aku langsung disambut senyum manis abang iparku yang lagi membersihkan sepeda butut milik ayahku dulu, kini sudah jadi miliknya. Ia merasa kaget aja, kok tiba tiba aku sudah ada begitu saja di depanya. Baca entri selengkapnya »


Tidak Tega

“Dah waktunya pulang. Biar abang yang antar ya”, kataku sama Yanti.

Yanti diam sejenak. Sulit baginya untuk menjawab.

“Kenapa ya jawabnya lama!” gumam ku dalam hati.

“Tidak mau abang yang antar”, aku tanya lagi.

Akhirnya, anggukan kecil diiringi suara “boleeh” keluar bibir seksinya.

“Gimana nanti kalau saya pulang PP (peminpin perusahaan) datang kemari, kayak kemarin. katanya dia mau datang hari ini ada masalah kas kantor”

“Ya udah ngak pa pa, lagian siapa suruh masuk kantor di waktu orang pada mau pulang”.

“Atau kita pigi ke tempat minum bandrek lagi, gimana! seloroku bernegosiasi. Baca entri selengkapnya »


Fogging Sampoerna Mild

SAMBIL petik gitar. Aku duduk dekat jendela kantor sambil melihat keluar, hujan turun lagi. Aku tidak melihat–kehujanan–hujan, setelah pindah ke kantor baru di Lambhuk sejak Februari lalu. Berarti sudah empat bulan lebih tidak turun hujan sederas ini, “kayaknya sih!”. Di beberapa tempat, menurut berita koran Harian Aceh di Banda Aceh, pohon tumbang, papan iklan pemasangan baliho sujud ke jalan. Berarti hujannya deras sekali plus angin ribut (kencang maksudnya).

Petikan gitar terhenti. Suasana jadi gelap. Apalagi kalau bukan mati listrik akibat hujan deras.

Eat…eaot…. terdengar suara cangguk lakee ujeun (seperti kodok memanggil hujan)  menggema di setiap sudut ruangan kantor. Anehnya di tempat ini tidak ada payau, juga tidak ada yang piara kodok. Tapi bunyinya sama persis seperti kodok lagi cari pasangan di waktu musim hujan tiba.

Penasaran kan!,  Mau tahu bunyi paan

Yang jelas bukan suara kodok. Tetapi bunyi UPS tanda aliran listrik putus. Bukan satu, ada sepuluh lebih serentak berteriak eat-eot. Itukan tidak beda jauh dengan nyanyian kodok di musim hujan. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.