http://kompas.com kena hack

Wah… Gawat, betul-betul gawat. Situs berita nasional kompas, http://kompas.com telah di hack, Sabtu dini hari sekitar jam 1.30. Anehnya yang ter-hack—entah sang hacker cuma menjahili saja, atau memang sengaja dilakukannya—cuma di url http://kompas.com, sedangkan aliasnya di ulr http://www.kompas.com masih sehat-sehat saja.

Kejadian yang menghebohkan kami di kantor sewaktu kami hendak pulang kerumah, bermula dari redaktur saya, Taufik Al Mubarak membuka situs kompas.com—biasanya, setiap selesai dari pekerjaan sebagai editor di Harian Aceh, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca berita-berita dari media lain. Baik yang lokal maupun media nasional, sambil memposting tulisannya di http://jumpueng.blogspot.com. Hal ini dilakukan untuk tidak terlewatnya isu-isu media lainnya. Apa saja yang jadi headline utama besok paginya. Maklum, ia jarang bangun pagi, dan pekerjaan di malam hari telah menjadikan malam jadi hari dan hari menjadi malam, begitu juga dengan saya. Hehe…

Betapa terkejutnya bang Taufik, ketika melihat apa yang telah terjadi dengan situs http://kompas.com. Ia langsung teriakin ke saya, “Zaaaan, situs Kompas ka di hack.” (Zan, situs kompas di hack)

“Apa, masak situs kompas di hack” saya pun membantah sekaligus jadi penasaran. “Aci buka dile” (coba buka dulu) tegasnya.

Saya pun bergegas membuka dengan browser flock, lalu saya ketik kompas kemudian saya tekan, thaaaaaammmm ctrl + enter biar cepat–suatu kebiasaan buruk saya menekan tuts keyboard dengan keras. Browser flock pun langsung membaca dengan url penuh http://www.kompas.com. Beberapa detik kemudian tampilah situs kompas seperti biasanya tanpa ada kecacatan sedikitpun. Tak ada tanda-tanda situs Kompas di hack.

“Mana ada di hack… masih seperti biasannya” saya menegaskan.

“Yaa… kok saya buka tadi ada, coba lihat di laptop saya” kata bang Taufik sambil mangajak saya ke meja kerjanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat atau salah membuka link.

Saya pun kaget, “lho kok bisa, masak di komputer saya masih sehat-sehat saja”. Saya pun memastikannya lebih dekat ke alamat url-nya, apa ada salah ketik. Rupanya, bang Taufik membuka ulr tersebut tanpa embel-embel www, tapi langsung dengan http://kompas.com. Saya pun membuka url tersebut di komputer saya, dan langsung menampilkan gambar di bawah ini.

Duhhhh……kompas, “SEMOGA BANGSA INI TIDAK BANGKRUT ATAS SEGALA KEBROBROKAN DI AMIENI”, begitu salah satu pesan yang ditampilkan oleh sang hacker, melalui sebuah picture yang berformat png dengan nama file “ana-konda”.

Kejadian ini tidak berlangsung lama. Selang beberapa menit kemudian link http://kompas.com sudah tidak menapilkan lagi pesan “Hiduplah Indonesia Raya” di title bar web browser. Entah sudah di ambil alih lagi oleh sang admin kompas, entahlah. Tapi, sejak tulisan ini saya turunkan di blog saya ini, link tersebut masih menanpilkan “ERROR, The requested URL could not be retrieved.” Dan belum ada media lain yang menyebutkan situs kompas telah di hack.

Padahal Kompas perusahaan media nasional yang sudah cukup mapan dan berpangalaman. Tapi masih ada kelemahannya juga, “untuk Kawan-kawan www.kompas.com ada banyak hal yang perlu diperbaiki”, demikian pesan sang hacker pada akhir tulisan di sudut kanan picture yang berlatar belakang hitam itu.[]

Note:

Untuk melihat screenshot yang lebih jelas , berikut linknya http://s254.photobucket.com/albums/hh92/ozan-ghira/
Screenshot/?action=view&current=screenshot-konpas-di-hack.jpg
Maaf, blog mengalami error kalau menambah hyperlink langsung. Ada yang bisa bantu, solusinya?

Mati (2)

Yang dinanti, yang ditunggu dan yang paling disorot oleh media beberapa pekan terakhir, akhirnya, Minggu, 27 Januari 2008, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia pada pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan.

Innalillahi Wainna Ilaihirajiun…. Selamat Jalan Pak. Walau sebagian masyarakat Aceh sulit memaafkanmu, walau kematian akhir dari segalanya[]


Antara Hack dan Maaf

SAYA dapat komentar dari seseorang pengunjung—bisa dikatakan pengunjung gelap karena menyembunyikan identitas diri berupa alamat URL-nya—di blog saya ini pada posting Renungan ke-24 yang menamakan dirinya AMIKI Studen. Ia menuliskan komentarnya seperti ini: Baca entri selengkapnya »


Renungan ke-24

HARI ini, Selasa, 03 Juli 2007, usia saya 24 tahun. Belum apa apa? Apa lagi keistimewaan di hari jadi yang ke 24. Tidak ada anniversary dan hadiah. Tak ada Lempar telur, atau disiram air kubangan sebagaimana lazimnya perayaan ulang tahun zaman sekarang. Apalagi sekedar ucapan selamat dari kawan atau dari keluarga dekat, itupun tidak ada!.

Bagi saya, semua itu tidak terlalu penting, apalagi bersedih “tidak berulang tahun” sebagaimana sebagian orang itu tidak boleh ketinggalan. Kadang juga hari spesial itu terlupan begitu saja. Kebetulan saja saya sudah menandai tanggal lahir saya di memori HP sejak saya pakai gadget itu. Jadi tahun ini sempat mengingatnya Baca entri selengkapnya »


Ngak Pernah Cukup

“KALI ini, gaji aku lebih banyak habis untuk pulsa. Untuk diriku sendiri sudah Rp50 ribu, belum lagi kawan kawan minta pulsa, apalagi keluarga aku, mereka sudah tau kalau aku lagi bulan muda,” celoteh Haikal sewaktu tidur-tiduran di kamar bawa kantor Harian Aceh. Walau suasana agak kumuh, berantakan dengan tumpukan koran bekas, gantungan baju yang sembraut membuat suasana seperti tinggal di barak pengungsian. Tapi kami betah duduk atau golek gole sambil bincang bincang soal nasib.

“Ngak seperti biasanya aku menghabiskan uang untuk komunikasi gadget tersebut. Sudah empat kali aku ngisi pulsa sebanyak Rp25 di HP ini. Setelah itu aku tranfer untuk mereka satu orang 10 ribu sebanyak lima orang. Nominal pulsa Rp25, tapi uang yang aku keluarkan sudah pasti lebih dari Rp100 ribu. Walau untuk sebagian orang, itu masih dianggap kecil, tapi bagiku itu yang paling banyakselama aku pakai handphone” katanya lagi. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.